Rabu, 30 November 2011

Multiple Sclerosis


Pendahuluan

Multiple sclerosis adalah penyakit akibat kerusakan myelin – yaitu selubung pelindung yang mengelilingi serabut saraf pada sistem saraf pusat. Ketika myelin mengalami kerusakan, maka hal tersebut akan mengganggu penyampaian ‘pesan’ antara otak dan bagian-bagian tubuh lainnya.

Informasi yang tersedia pada bagian ini sebaiknya tidak dijadikan sebagai nasehat medis. Setiap penderita MS sebaiknya berkonsultasi kepada dokter ahli saraf atau dokter keluarganya sendiri untuk mendapatkan nasehat yang berkaitan dengan diagnosa, gejala-gejala dan penanganan penyakit.
Gejalanya sangat bervariasi; diantaranya penglihatan kabur, kelemahan otot/anggota gerak, perasaan seperti baal, gangguan keseimbangan, dan keletihan berlebihan. Bagi sebagian orang, MS menyerang dengan pola hilang-timbul, sedangkan bagi yang lain, MS menyerang dengan pola perburukan yang progresif. Namun bagi semua, MS membuat kondisi hidup penderita menjadi tak terduga.

Penyebab MS

Penyebab MS belum diketahui, tetapi para peneliti di seluruh dunia sedang berusaha mencari jawabannya. Kerusakan myelin pada MS mungkin terjadi akibat respon abnormal dari sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi tubuh dari serangan organisme berbahaya (bakteri dan virus). Banyak jenis MS yang menunjukkan gejala penyakit ‘kekebalan tubuh’, dimana tubuh menyerang sel-sel dan jaringan-jaringannya sendiri (dalam kasus MS, yang diserang adalah Myelin). Para peneliti tidak mengetahui apa yang memicu sistem kekebalan tubuh tersebut menyerang myelin, tetapi diduga hal tersebut terjadi karena perpaduan beberapa faktor.

Satu teori menyebutkan bahwa virus, yang mungkin sudah menetap lama dalam tubuh, mungkin memainkan peranan penting dalam perkembangan penyakit ini dan mungkin mengganggu sistem kekebalan atau secara tidak langsung mengubah proses sistem kekebalan tubuh. Banyak penelitian yang sudah mencoba mengidentifikasi virus MS. Ada satu dugaan bahwa kemungkinan tidak ada virus MS, melainkan hanya ada virus-virus biasa, seperti virus campak dan herpes, yang menjadi pemicu timbulnya penyakit MS. Virus-virus ini mengaktifkan sel darah putih (limfosit) dalam aliran darah menuju ke otak dengan melemahkan mekanisme pertahanan otak (yaitu darah/sawar otak). Kemudian, di dalam otak, sel-sel ini mengaktifkan unsur-unsur lain dari sistem kekebalan tubuh dengan satu cara yang pada akhirnya membuat sel-sel tersebut menyerang dan menghancurkan myelin.

Demyelinasi

Demyelinasi adalah istilah yang dipakai untuk hilang/rusaknya myelin, yaitu suatu substansi dalam massa putih otak yang melindungi ujung saraf. Myelin membantu saraf menerima dan menginterpretasikan pesan-pesan dari otak dengan kecepatan tinggi. Ketika ujung saraf kehilangan substansi tersebut, maka substansi tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik, menyebabkan timbulnya luka-luka, atau munculnya ‘sclerosis’ di ujung-ujung saraf yang kehilangan myelin. Nama penyakit Multiple Sclerosis didasarkan pada area luka-luka tersebut. 

Demyelinasi adalah penyebab dasar dari gejala-gejala yang timbul pada penderita MS. Ketika demyelinasi terjadi, kecepatan ‘lalu-lintas’ pesan pada saraf menjadi lebih lambat daripada biasanya. Bahkan ketika luka-luka yang terjadi akibat demyelinasi sudah sembuh dan mengalami remyelinasi, respon saraf akan cenderung melambat.


Siapa yang dapat menderita MS?

Wanita lebih rentan menderita MS daripada pria, MS 50% lebih sering muncul pada wanita daripada pria (3 berbanding 2). MS adalah penyakit yang terjadi pada dewasa muda; rata-rata usia terjadinya serangan adalah 22-39 tahun, tetapi jangkauan serangan sebenarnya sangat luas berkisar antara 10-59 tahun.


Perjalanan penyakit MS

Adalah mustahil untuk memprediksi perjalanan penyakit MS untuk setiap individu secara akurat, tetapi lima tahun pertama biasanya memberikan satu indikasi pada seseorang tentang bagaimana penyakit ini akan berlanjut. Kesimpulan ini didasarkan pada bagaimana perjalanan penyakit dalam kurun waktu tersebut serta didasarkan juga pada apa tipe penyakitnya (misalnya hilang-timbul atau progresif). Tingkat ketidakmampuan yang dicapai pada satu titik akhir seperti lima dan sepuluh tahun diyakini dapat memprediksi perjalanan penyakit ini di kemudian hari. 

Akan tetapi, ada beberapa variabel mengenai hal ini:

• Sebagian besar penderita MS (kurang lebih 45%) tidak terlalu terpengaruh oleh penyakit MS-nya, dan dapat menjalani hidup normal serta produktif.

• Ada sekelompok penderita (40%) yang jenis MS-nya berubah menjadi progresif setelah beberapa tahun bersifat hilang-timbul.

Usia saat terjadinya serangan serta gender dapat menjadi indikator jangka panjang perjalanan penyakit MS. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa serangan yang terjadi pada usia lebih muda (dibawah usia 16 tahun) mengimplikasikan prognosis yang lebih baik, tetapi hal ini harus dibatasi oleh kenyataan bahwa seorang dewasa muda yang menjalani hidup sebagai penderita MS selama 20 atau 30 tahun dapat mengalami ketidakmampuan subtansial, walaupun perkembangan menuju ketidakmampuan tersebut berlangsung lambat dan pada 10 atau 15 tahun pertama penderita relatif hanya serangan ringan. Penelitian-penelitian lain menunjukkan bahwa serangan pada usia lanjut (pada lebih dari 55 tahun), terutama pada laki-laki, dapat menunjukkan perjalanan penyakit yang bersifat progresif.

Terapi MS harus memberi prospek yang mendukung para penderita yang baru terdiagnosa MS. Obat-obatan seperti interferon beta adalah pengobatan yang mungkin dilakukan untuk penderita MS hilang-timbul dan penderita yang masih dapat berjalan. Interferon beta dapat memperlambat progresifitas ketidakmampuan dan juga mengurangi tingkat keparahan dan frekuensi perburukan. Pada taraf ini, tidak diketahui apakah interferon beta berdampak pada MS progresif primer atau tidak. Penelitian yang luas tentang MS sekarang ini memberikan harapan bahwa terapi yang bersifat melawan proses penyakit MS (walaupun tidak menyembuhkan), dalam waktu dekat, tidak lagi menjadi suatu harapan yang mustahil.

Harus diingat bahwa banyak penderita MS yang menjalani hidup dengan ketidakmampuan dalam mengatur diri (misalnya, keletihan berlebihan, pincang, gangguan kandung kemih). Bagaimanapun, sedikitnya 15% dari penderita MS akan menjadi cacat (misalnya harus menggunakan kursi roda setiap waktu). Harapan hidup bagi sebagian besar penderita MS adalah mendekati normal.


Gejala-gejala MS

Multiple sclerosis memiliki kondisi yang sangat variasi dan gejala-gejalanya tergantung pada area sistem saraf pusat yang terkena. Tidak ada pola khusus pada MS dan setiap penderita MS memiliki kekhasan gejalanya masing-masing, yang bentuknya bervariasi dari waktu ke waktu dan tingkat keparahan serta lamanya serangan dapat berubah, walaupun pada penderita yang sama. 

Tidak ada MS yang khas. Kebanyakan penderita MS akan mengalami lebih dari satu gejala, walaupun gejala-gejala ini umum terjadi pada banyak orang, tapi tidak seorangpun mempunyai semua gejala tersebut bersamaan. Gejala-gejala yang umum terjadi adalah.


Visual disturbances (Gangguan Penglihatan)

Penglihatan kabur

Penglihatan ganda / berbayang (diplopia)

Neuritis optika

Gerakan mata yang tak terkontrol

Buta total (sangat jarang terjadi)


Gangguan Keseimbangan dan Koordinasi

1. Hilang keseimbangan tubuh

2. Gemetar (tremor)

3. Ketidakstabilan berjalan (ataksia)

4. pusing (vertigo)

5. kekakuan anggota gerak

6. gangguan koordinasi

7. Kelemahan: terutama dapat mengenai kaki dan kemampuan berjalan


kekakuan

1. Mengenai tonus otot dan kekakuan otot dapat mempengaruhi mobilitas dan cara berjalan

2. Spasme


perubahan rasa/sensasi

1. perasaan baal

2. perasaan seperti di tusuk-tusuk jarum

3. kebas (paraesthesia) perasaan seperti terbakar

4. nyeri dapat berhubungan dengan penyakit MS, contohnya, nyeri di wajah (seperti trigeminal neuralgia), dan nyeri otot


gangguan kemampuan berbicara

1. Bicara menjadi lambat

2. berbicara seperti menggumam

3. perubahan ritme berbicara

4. sulit menelan (dysphagia)


Keletihan berlebihan

Perasaan lemah dan letih yang datang tidak terduga dan tidak sebanding dengan aktivitas yang sedang dikerjakan. Keletihan berlebihan adalah gejala penyakit MS yang paling umum (dan yang paling menyusahkan).


Gangguan kandung kemih dan usus besar

1. Gangguan kandung kemih meliputi: sering buang air kecil, tidak dapat buang air kecil secara tuntas atau tidak bisa menahan air kecil.

2. Gangguan usus meliputi: konstipasi/sembelit, dan kadang-kadang diare.


Seksual dan Keintiman

1. impoten

2. Berkurangnya kemampuan seksual

3. kehilangan gairah


Sensitivitas terhadap Panas

Gejala-gejala memburuk dengan udara panas


Gangguan Kognitif dan Emosi

1. kehilangan memori jangka pendek

2. kehilangan kemampuan konsentrasi, penilaian, penalaran

Lain dengan gejala-gejala yang jelas terlihat dengan segera, gejala lain seperti keletihan (fatigue), perubahan sensasi, gangguan memori dan konsentrasi sering menjadi gejala yang tersembunyi. Gejala seperti ini mungkin sulit untuk dijelaskan kepada orang lain dan kadang-kadang keluarga dan perawat tidak dapat memahami efeknya terhadap pekerjaan, aktivitas sosial, dan kualitas hidup penderita MS.


Jenis-jenis MS

Perjalanan penyakit MS tidak terduga. Bagi beberapa orang, penyakit ini hanya sedikit mengganggu, sedangkan beberapa yang lain mengalami perburukan yang cepat hingga membuatnya sama sekali tidak berdaya, dan beberapa yang lain berada di antara dua kondisi ekstrem tersebut. Walaupun setiap individu mengalami kombinasi kondisi gejala MS yang berbeda, tetapi ada beberapa macam pola berbeda yang berhubungan dengan jenis penyakit ini:


MS Hilang-Timbul

Pada MS jenis ini, terjadi beberapa kali kekambuhan (serangan) yang tidak terduga. Dapat timbul gejala-gejala baru atau terjadi perburukan gejala yang sudah ada. Serangan ini dapat berlangsung dalam waktu yang bervariasi (dalam hitungan hari atau bulan) dan dapat pulih secara sebagian (parsial) atau total. Jenis ini dapat bersifat ‘tidak aktif’ selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.


Frekuensi – kurang lebih 25%


MS Jinak

Setelah satu atau dua kali serangan dan kemudian pulih total, MS jenis ini tidak mengalami perburukan dan tidak timbul kecacatan permanen. MS jinak hanya dapat diidentifikasi bila terdapat kecacatan ringan yang timbul pada waktu 10 – 15 tahun setelah serangan dan pada awalnya dapat dikategorikan sebagai MS hilang-timbul. MS jinak cenderung berhubungan dengan gejala-gejala yang tidak parah ketika terjadinya serangan (contohnya pada sistem sensorik).

Frekuensi – kurang lebih 20%

MS Progresif Sekunder

Bagi beberapa orang yang pada awalnya mengalami MS hilang – timbul, dalam perjalanan penyakitnya ada bentuk perkembangan lebih lanjut yang mengarah pada ketidakmampuan yang bersifat progresif, dan seringkali disertai kekambuhan terus menerus.

Frekuensi – kurang lebih 40%


MS Progresif Primer

MS jenis ini ditandai dengan tidak adanya serangan yang parah, tetapi ada serangan-serangan kecil dengan gejala-gejala yang terus memburuk secara nyata. Terjadi satu akumulasi perburukan dan ketidakmampuan yang dapat membawa penderita pada tingkat/titik yang semakin rendah atau terus berlanjut hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Frekuensi – kurang lebih 15% 


Mendiagnosis MS

Tidak seperti penyakit yang lain, tidak ada tes yang dapat langsung mendeteksi ‘positif atau negatif’ untuk MS dan tes yang tersedia untuk menolong para dokter dalam mendiagnosis, tidak ada satupun yang dapat 100% meyakinkan diagnosis tersebut.

Hal ini berarti pada akhirnya para dokter akan mendiagnosa MS dengan mengombinasikan pengamatan terhadap gejala-gejala yang terjadi pada seseorang dan menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Hal ini disebut ‘Diagnosis Klinis’.


Masalah dalam Diagnosa

Sayangnya bagi sebagian kecil penderita MS (10-15%), diagnosis pasti masih belum mungkin, bahkan setelah menjalani berbagai tes yang tersedia. Akan tetapi, dapat menyingkirkan penyebab yang sangat penting dari gejala-gejala tipe-MS yang lain, dan jika dilanjutkan dengan pemeriksaan berkala dan pengawasan pada perubahan kondisi penderita, maka dalam banyak kasus, diagnosis menjadi hal yang mungkin ditetapkan.


Kriteria Baru Diagnosis MS

International Medical and Scientific Board (MSIF) telah menyimpulkan sebuah kriteria baru diagnosa MS untuk membantu para dokter dalam membedakan MS dengan penyakit lain yang mungkin memperlihatkan gejala-gejala yang sama. Kriteria baru ini melibatkan hasil pemindaian dengan MRI, sehingga memungkinkan untuk mendiagnosis MS walaupun seseorang hanya memperlihatkan satu episode gejala saja. Dengan kriteria yang baru ini, seseorang dapat diklasifikasikan sebagai penderita MS, mungkin MS, atau bukan MS.


Diagnosis Klinis

MS pada stadium awal dapat terlihat seperti riwayat penyakit dengan gejala-gejala yang samar, yang mungkin muncul secara sporadis dalam kurun waktu yang lama dan seringkali dihubungkan dengan salah satu kondisi medis yang lain. Gejala-gejala yang tidak terlihat dan bersifat subjektif seringkali sulit untuk dikomunikasikan dengan dokter dan para ahli kesehatan dan sayangnya dalam diagnosis tingkat paling awal, masih merupakan hal yang umum bagi penderita MS untuk diperlakukan dengan tidak simpatik.

Walaupun seseorang menunjukkkan gejala-gejala tipe MS dengan pola yang klasik, gejala-gejala tersebut harus dipastikan sudah memenuhi kriteria sebelum dokter atau spesialis saraf dapat mendiagnosis ‘pasti’ MS secara klinis. Kriteria-kriteria tersebut adalah: ‘Dua area berbeda di sistem saraf pusat terserang, dan serangan-serangan tersebut terjadi setidaknya dalam dua kejadian yang berbeda dan sedikitnya dalam selang waktu satu bulan, dan orang tersebut berada dalam rentang usia normal untuk mendapat serangan MS’. Dengan demikian, walaupun bisa saja anda didiagnosis ‘pasti’ MS pada kunjungan pertama anda ke spesialis saraf, masih ada kemungkinan bahwa diagnosis tersebut menjadi tidak jelas, dan bahwa orang tersebut akan dirujuk untuk menjalani serangkaian pemeriksaan lebih lanjut.


Uji Diagnosis

Ini adalah panduan singkat tentang uji diagnosis yang paling sering digunakan, apa saja yang termasuk di dalamnya dan sejauh mana uji tersebut dapat memberi penjelasan kepada anda. Dokter dan spesialis saraf mungkin menginginkan anda untuk menjalani seluruh pemeriksaan tersebut sebelum membuat diagnosis klinis.


Riwayat Medis

Dokter akan menanyakan riwayat medik anda secara detail, termasuk rekam medik anda di masa lalu tentang tanda-tanda dan gejala-gejala dan juga tentang kondisi kesehatan anda sekarang.

Jika gejala-gejala yang pernah anda alami, mungkin yang terjadi dalam jangka waktu yang lama, diperiksa, maka pola gejala yang didapatkan dapat merujuk pada penyakit MS. Akan tetapi, pemeriksaan fisik dan medik yang lengkap tetap diperlukan untuk memastikan hasil diagnosis.


Pemeriksaan Neurologi

Pemeriksaan neurologi menunjukkan sebaik apa sistem saraf anda berfungsi. Spesialis saraf akan menguji kelainan yang terjadi pada alur saraf yang membawa pesan dari otak ke bagian tubuh anda yang lain. Mereka akan memperhatikan perubahan pada gerakan mata, koordinasi keseimbangan tubuh, kelemahan, keseimbangan, perasaan sensasi), cara berbicara, dan refleks.

Pemeriksaan ini mungkin juga dapat mengungkap gejala yang merujuk pada penyakit MS, tetapi tidak dapat digunakan untuk menentukan apa yang menyebabkan gejala tersebut ada. Kondisi lain yang mungkin menunjukkan gejala yang sama seperti MS harus diabaikan.


Pemeriksaan potensi penglihatan, pendengaran, dan somatosensori

Walaupun namanya sukar diucapkan, keutamaan dari pemeriksaan ini adalah sifatnya yang langsung. Pemeriksaan ini mengukur kecepatan perjalanan pesan dari otak ke saraf.

Kecepatan pesan yang melewati sistem saraf diukur dengan menempatkan elektroda-elektroda kecil di kepala, yang memonitor respon gelombang-gelombang otak terhadap visualisasi dan audio (pendengaran) atau terhadap rangsangan sensorik. Hal yang sangat bermanfaat dari tiga pemeriksaan ini adalah potensi visual, walaupun sekarang ini, seiring dengan meningkatnya penggunaan MRI, pengujian potensi tidak begitu sering lagi diperlukan. Pemeriksaan ini tidak bersifat invasif atau menyakitkan dan tidak memerlukan rawat inap di rumah sakit.

Waktu yang diperlukan saraf untuk menyampaikan pesan dari otak adalah sebuah indikator dari kondisi sistem saraf dan digunakan untuk menentukan apakah ada demyelinasi yang terjadi.


Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pemindai MRI adalah tes diagnosis terbaru dan memberikan gambaran rinci tentang ‘potongan’ otak dan saraf tulang belakang, memperlihatkan area-area luka (lesi atau plak) yang mungkin ada.

Selama pemindaian dengan MRI, orang yang menjalani pemeriksaan harus berbaring tanpa bergerak di atas sebuah meja yang dimasukkan ke dalam tabung besar yang merupakan bagian dari mesin yang mengandung magnet. Orang yang melakukan pemeriksaan duduk di ruangan yang berbeda sambil mengawasi peralatan penerima gambar; akan tetapi mereka pun dapat melihat orang yang sedang menjalani pemeriksaan, biasanya melalui jendela yang besar.

Pemeriksaan MRI tidak menyakitkan, tetapi banyak orang merasakan pengalaman yang sangat tidak biasa, yaitu dapat berupa rasa takut terhadap tempat yang sempit dan gelap (klastrofobia) atau merasa berisik/gaduh. Semua ketidaknyamanan tersebut dapat dikurangi dengan pemberian obat penenang. Kadang-kadang dilakukan pula injeksi bahan kontras yang mengandung gadolinium ke dalam pembuluh darah yang dapat memperlihatkan semua area peradangan dan dapat membantu pembuatan diagnosis.

Penting untuk diingat bahwa orang yang melakukan pengujian tidak selalu dapat secara langsung memberikan umpan balik kepada anda dan gambar hasil pemindaian akan dikirim ke dokter anda untuk dianalisis.

Walaupun alat pemeriksaan ini adalah satu-satunya alat uji yang dapat menunjukkan lesi pada MS, hasil pemeriksaan tidak dapat dianggap sebagai sebuah hasil yang meyakinkan. Pemindai bisa saja tidak dapat memetakan semua lesi, terutama pada stadium awal, dan beberapa kondisi lain dapat memperlihatkan perubahan yang sama dalam sistem saraf.

MRI memperlihatkan ukuran, kuantitas, dan penyebaran lesi, dan didukung oleh bukti-bukti dari riwayat medis dan pemeriksaan saraf, maka hal ini menjadi indikator yang sangat signifikan untuk memastikan diagnosa MS. Ini menunjukkan lebih dari 95% keabnormalan dengan diagnosis klinis tertentu. MRI adalah alat yang sangat berguna dalam pemeriksaan klinis untuk menguji keandalan terapi-terapi baru, berkaitan dengan kemampuan terapi tersebut untuk menunjukkan perubahan aktivitas penyakit.


Pungsi Lumbal

Ada beberapa pengujian yang dapat dilakukan dengan cairan sum-sum tulang belakang (cairan yang mengalir di otak dan sum-sum tulang belakang), tetapi berkaitan dengan penyakit MS, yang diperiksa adalah pola-pola yang terbentuk oleh protein.

Cairan ini diambil dari sum-sum tulang belakang dengan memasukkan jarum di punggung bagian bawah. Untuk membuat kulit mati rasa maka diberikan bius lokal, dan walaupun terasa tidak nyaman, pemeriksaan ini biasanya tidak sakit.

Pemeriksaan ini mengharuskan orang yang menjalani pemeriksaan untuk tidur terlentang selama beberapa waktu, dan setelah pemeriksaan mungkin akan timbul sakit kepala sebagai efek samping dari kekurangan cairan; efek samping ini dapat dikurangi dengan segera minum setelah menjalani pemeriksaan, untuk membantu tubuh mengganti cairan sum-sum tulang belakang yang hilang. Beberapa orang membutuhkan perawatan inap di rumah sakit dan memerlukan waktu yang lebih lama untuk penyembuhan.

Protein dalam cairan sum-sum tulang belakang pada sebagian besar (90%) penderita MS membentuk pola tertentu ketika dialiri listrik, dengan demikian prosedur ini dapat memastikan diagnosis MS secara potensial. Akan tetapi, Protein cairan sum-sum tulang belakang pada penderita MS stadium awal atau MS ringan tidak selalu menunjukkan pola yang sama, dengan demikian hasilnya lagi-lagi tidak dapat dipastikan. Sering terjadi hasil MRI menjadi tidak pasti.

sumber : http://www.msif.org/

Tidak ada komentar:

INFO KESEHATAN © 2008. Design by :vio Templates Sponsored by: gold bola